Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 5 Sebelumnya :
Ketika Angin Belajar Menyebut Namamu
Senja datang perlahan di dusun itu.
Langit berwarna jingga muda, awan seperti kapas yang malas bergerak, dan suara burung gereja pulang ke sarangnya.
Dari beranda rumah kayu sederhana, Rama Dwiatmojo duduk dengan segelas kopi panas di tangan dan gitar di pangkuan.
Bau tembakau dari sawah belakang bercampur dengan aroma kopi — pahit, tapi menenangkan.
Di depannya terbuka buku Biologi yang sudah usang, halaman belakangnya penuh coretan.
Namun kali ini, Rama menambahkan selembar kertas baru — surat yang belum tahu akan dikirim ke mana.
“Saras… kalau sore ini kamu menatap langit yang sama denganku, mungkin kamu akan tahu kenapa aku begitu diam. Karena setiap kata yang ingin kuucapkan, sudah lebih dulu larut di dalam secangkir kopi.”
Ia berhenti menulis, meniup uap kopi, lalu menatap jauh ke arah barat.
Di sana, matahari sedang tenggelam perlahan, meninggalkan warna oranye yang mirip dengan bayangan rambut Saras ketika terkena cahaya senja di panggung puisi.
Dari kejauhan, suara jangkrik mulai menggema.
Rama memetik gitar pelan, memainkan nada yang belum selesai ia beri lirik.
Angin sore berhembus, membuat halaman surat itu bergetar di atas meja.
Ia tersenyum sendiri, lalu menulis lagi:
*“Aku menulis surat ini tanpa tahu kapan selesai.
Mungkin karena cintaku pun tidak tahu kapan harus berhenti.Aku menulis karena tak berani bicara.
Aku diam karena terlalu takut kehilangan suara yang belum sempat kau dengar.”*
Keesokan harinya, di sekolah, Saras terlihat berbeda.
Matanya tampak sayu, seolah semalam hujan turun di dalam dadanya.
Rama ingin bertanya, tapi tak berani. Ia hanya memandangi dari jauh, seperti biasa — diam tapi penuh.
Saat istirahat, Saras duduk di taman sekolah, di bawah pohon angsana yang daunnya berjatuhan pelan.
Rama menghampiri, pura-pura lewat.
“Kamu nggak ke kantin?” tanya Rama.
“Nggak, nggak lapar. Aku cuma mau ngerasain angin sore.”
“Angin sore bisa bikin lapar juga, lho,” canda Rama pelan.
Saras tersenyum tipis, lalu menatap langit.
“Kamu tau, Ram? Aku suka sore. Tapi kadang sore juga bikin aku sedih.”
Rama diam. Ia tahu, setiap kata Saras adalah sesuatu yang harus disimpan hati-hati — seperti doa yang takut jatuh di jalan.
Malamnya, di rumah, Rama kembali membuka surat yang kemarin ia tulis.
Ia menambahkan bait terakhir sebelum menutupnya dengan lipatan rapi:
*“Saras… di setiap cangkir kopi yang aku teguk, ada wajahmu yang mengambang.
Di setiap senja yang datang, ada namamu yang perlahan tenggelam.Surat ini tak akan kukirimkan.
Biarlah ia menetap di sini —
di antara kopi yang dingin, gitar yang sunyi, dan langit yang terus menyimpanmu.”*
Rama menatap surat itu lama-lama, lalu menyelipkannya ke dalam buku Biologi, di halaman tentang sistem peredaran darah manusia.
Ia tersenyum getir — mungkin karena hatinya pun kini bekerja seperti jantung: berdetak untuk nama yang sama, berulang-ulang, tanpa jeda.
Di luar, angin berhembus lembut.
Lolong anjing terdengar di kejauhan, dan langit mulai kehilangan cahaya terakhirnya.
Rama meneguk sisa kopinya yang telah dingin, lalu memetik gitar sekali lagi.
Nada itu pelan, tapi menyala.
Dan malam pun menyalin kisahnya di udara:
Tentang cinta yang tak pernah diucapkan,
tapi tak juga mau pergi.

0 Komentar