Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 7 : Kopi di Warung Pak Salim - Karya R. Abim

  Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 7 : Kopi di Warung Pak Salim


Libur
 kenaikan kelas terasa seperti jeda panjang antara masa kanak dan dunia yang menunggu di ujung jalan.
Rama duduk di warung kecil milik Pak Salim, di tikungan yang menghadap sawah.
Motor bututnya terparkir miring di depan, gitar tergantung di bahu, dan secangkir kopi hitam mengepul di depannya.

Langit sore itu jingga keemasan, seakan matahari enggan benar-benar tenggelam.
Angin berhembus membawa wangi jerami dan suara jangkrik dari tepi pematang.
Dari radio butut warung terdengar suara Iwan Fals, “Merdeka…” samar menyelinap di antara desir senja.

“Rama, naik ke SMA mana nanti?” tanya Pak Salim sambil menata gelas.

“SMA Negeri 5, Pak. Dapatnya di situ. Lumayan deket dari rumah.”

“Bagus itu, Ram. Saras juga katanya masuk SMA 3, ya?”

Rama terdiam. “Iya, Pak. Tapi kayaknya dia nggak tahu aku juga udah daftar.”

Pak Salim tertawa kecil. “Heh, anak muda. Kadang yang kita tunggu itu nggak jauh, cuma nggak berani disapa.”
Rama ikut tertawa, tapi matanya tetap menatap jalan di depan warung — menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tak berani sebut namanya.

Dari kejauhan, terdengar suara motor matic berhenti.
Saras Wening turun dari jok belakang, menuntun motornya pelan sambil menyeka peluh.
Rambutnya dikuncir sederhana, seragam SMP-nya kini sudah tak dipakai lagi — diganti baju kasual yang entah kenapa membuat Rama kikuk menatapnya.

“Ram… motorku mogok lagi. Kamu tahu bengkel deket sini?”

“Tau, tapi udah mau tutup. Aku bantu dorong, ya.”

Tanpa banyak bicara, Rama menuntun motor itu ke arah gang.
Saras berjalan di sampingnya, sambil membawa gitar Rama.
Suara jangkrik makin keras, disusul lolongan anjing di kejauhan.

“Kamu nggak capek, Ram?”
“Kalau capeknya bareng kamu, nggak papa.”

Saras menunduk, wajahnya memerah. “Kamu sekarang suka ngomong aneh-aneh, ya.”

“Dulu malu, sekarang juga malu… cuma bedanya, udah belajar nyembunyiin malunya,” jawab Rama.

Mereka berdua tertawa kecil.
Sore merambat menjadi senja.
Langit di atas mereka perlahan berubah dari jingga menjadi ungu tua.

Sampai di bengkel kecil milik Pak Sastro, Rama menyerahkan motor itu.

“Pak, ini karbunya kayaknya kemasukan air. Bisa diperiksa?”

“Bisa, tinggal tunggu dikit.”

Saras masih memegang gitar Rama. Ia mengelus pelan senarnya, seolah mendengar gema dari masa SMP — masa ketika suara gitar itu sering terdengar dari balik ruang OSIS.

“Kamu masih sering main gitar, Ram?”
“Masih. Kadang buat ngelawan sepi.”

“Aku mau denger, tapi jangan di sekolah. Di pantai, mungkin?”

“Kapan?”

“Entahlah.”

Jawaban Saras seperti bayangan: indah tapi tak bisa digenggam.

Ketika motor hidup kembali, Saras bersyukur kecil.

“Makasih ya, Ram. Kamu selalu muncul di waktu pas.”

“Aku nggak pernah sengaja, Sar. Cuma… mungkin semesta lagi lucu.”

Saras tertawa pelan.
Ia mengembalikan gitar itu dan berkata,

“Kalau nanti kita udah SMA, jangan berubah, ya.”

“Tergantung kamu berubah apa nggak,” balas Rama.

Saras berbalik, melangkah ke motornya.
Dari kejauhan, mobil ayahnya melintas, tapi kali ini Saras menolak naik.
Ia lebih memilih menghidupkan mesin dan melambaikan tangan ke Rama.

“Sampai ketemu di jalan lain, Ram.”

Rama berdiri di pinggir jalan, menatap punggung Saras yang perlahan menghilang bersama debu senja.
Lalu ia menulis satu kalimat di buku Biologi yang selalu ia bawa ke mana-mana:

“Kadang cinta tumbuh bukan karena janji, tapi karena kebiasaan sederhana —
seperti menunggu di warung yang sama, di bawah langit yang berwarna sama.”


Selanjutnya Episode 8 :
Motor Butut dan Langit Senja

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising