Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 7 Sebelumnya :
Kopi di Warung Pak Salim
Sudah sebulan lebih sejak hari Saras menuntun motornya di depan warung Pak Salim.
Rama kini resmi menjadi siswa kelas sepuluh SMA Negeri 5 — sekolah yang baginya terasa terlalu ramai, terlalu bising, dan terlalu asing tanpa Saras.
Motor bututnya tetap setia menemaninya berangkat pagi-pagi buta, menembus jalanan Surabaya yang mulai padat. Knalpotnya kadang batuk, tapi Rama membiarkannya, seolah bunyi sember itu menjadi musik pengingat dari masa yang belum jauh berlalu.
Di setiap lampu merah, matanya sering mencari-cari motor matic putih milik Saras.
Kadang ia hampir yakin melihatnya di antara deretan kendaraan, tapi saat mendekat — selalu bukan. Selalu perempuan lain.
Sore itu, setelah jam pelajaran Biologi — pelajaran yang kini jadi favoritnya — Rama duduk sendirian di bangku taman belakang sekolah.
Ia membuka buku Biologi yang sama, halaman yang dulu dipenuhi catatan dan coretan kecil dari masa SMP.
Di pojok halaman terakhir, masih ada tulisan yang mulai memudar:
“Aku nggak berani ngomong, tapi aku ingin kamu tahu: aku selalu nunggu.”
— S.
Rama mengelus tulisan itu dengan ujung jarinya.
Entah kenapa, setiap membaca huruf “S” itu, dadanya terasa penuh dan heningnya sore berubah menjadi doa yang panjang.
“Ram…”
Suara itu datang dari belakang.
Rama menoleh, dan seolah waktu kembali memutar: Saras berdiri dengan seragam SMA-nya — bukan yang sama, tapi wajah itu, senyum itu, masih sehangat dulu.
“Saras… kamu kok bisa di sini?”
“Sekolahku ada acara bareng di sini. Aku lihat kamu tadi dari jauh.”
“Oh…” Rama menggaruk kepala, bingung harus berkata apa.
Angin sore bergerak pelan. Daun-daun mahoni berguguran di antara mereka.
Saras duduk di bangku sebelah Rama, masih dengan caranya yang tenang, seperti tak pernah ada jarak di antara dua masa.
“Kamu masih naik motor itu?” tanya Saras, menatap helm usang di tangan Rama.
“Masih. Motor butut ini saksi banyak hal, Sar.”
“Misalnya?”
“Misalnya… saksi orang yang aku suka, tapi nggak berani aku antar pulang.”
Saras menunduk. Ada cahaya senja yang memantul di matanya.
“Dulu kamu nggak berani, sekarang juga belum, ya?”
“Berani, tapi… takutnya kamu nggak mau.”
“Kalau aku mau?”
Rama terdiam.
Sore itu, semua suara seperti menjauh.
Yang tersisa hanya deru angin dan degup dada yang saling mencari irama.
Mereka akhirnya keluar bersama lewat gerbang belakang.
Motor butut itu kembali jadi saksi. Saras duduk di belakang, pelan menepuk bahu Rama.
“Rama…”
“Ya?”
“Jangan ngebut, aku masih pengen lihat langit.”
Rama tersenyum kecil.
“Langitnya ada di depan, Sar. Tapi kalau kamu mau, aku bisa berhenti dulu.”
Mereka berhenti di jembatan kecil, tempat matahari tenggelam di balik gedung-gedung jauh.
Cahaya senja berpendar di wajah Saras.
Dan di saat itu, Rama ingin waktu berhenti — tapi hidup selalu melanjutkan diri.
Ketika malam mulai turun, Saras turun dari motor.
“Makasih, Ram. Rasanya kayak dulu lagi.”
“Dulu nggak ada yang seindah ini.”
“Kenapa?”
“Karena dulu aku cuma nunggu, sekarang aku berani.”
Saras tersenyum, matanya menatap Rama lama sekali — sampai langit benar-benar kehilangan warna.
“Jangan janji apa-apa dulu, Ram. Kadang langit juga perlu waktu buat menetap.”
Rama hanya mengangguk, memandangi langkah Saras menjauh, sementara di belakangnya motor butut itu berdiri dalam diam, seperti tahu:
senja baru saja menyimpan satu kenangan lagi.
Di buku Biologinya malam itu, Rama menulis satu kalimat pendek:
“Langit sore ini punya dua warna — jingga Saras dan biru kesabaran.”

0 Komentar