Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 8 Sebelumnya :
Motor Butut dan Langit Senja
Pagi itu, halaman SMA Negeri 5 masih basah oleh embun.
Rumput lapangan memantulkan cahaya matahari pertama yang malu-malu menembus sela daun mahoni.
Rama berdiri di barisan tengah, seragam putih abunya masih tampak kaku — seperti dirinya yang belum terbiasa dengan dunia baru.
Suara guru upacara terdengar tegas di pengeras suara, tapi pikirannya entah ke mana.
Matanya diam-diam mencari satu wajah — yang membuat detak jantungnya tak pernah mau selaras dengan lagu kebangsaan.
Dan di ujung barisan sekolah sebelah, di seberang pagar yang hanya dibatasi deretan bougenville,
Saras berdiri. Seragamnya juga putih abu, tapi terasa lebih hidup, lebih hangat,
seperti ada langit kecil yang bersembunyi di balik senyumnya.
Setelah upacara, Rama menunggu di taman belakang sekolah, tempat ia biasa membuka bekal pagi dan memetik gitar pelan.
Udara masih lembap. Butiran embun masih menempel di ujung sepatu dan rambutnya yang sedikit berantakan.
Ia membuka buku Biologi, bukan untuk belajar, tapi karena di halaman dalamnya terselip sesuatu:
selembar kertas kecil, dilipat rapi, ditulis dengan pulpen biru muda.
“Kalau embun bisa bicara, mungkin ia akan bilang: aku rindu.”
— S.
Rama menatap tulisan itu lama sekali.
Hurufnya miring, tapi lembut. Masih seperti dulu — Saras memang menulis dengan hati, bukan dengan tangan.
Siang menjelang.
Saras datang perlahan lewat gerbang belakang, sambil menenteng botol minum dan buku catatan.
Ia menatap Rama yang duduk di bawah pohon flamboyan.
“Kamu masih suka buka buku Biologi itu, ya?”
“Iya. Karena di dalamnya kadang ada sesuatu yang bikin aku hidup lagi.”
“Sesuatu kayak apa?”
“Kayak… embun. Hilang kalau dijemur, tapi datang tiap pagi.”
Saras tersenyum.
“Kamu masih suka ngomong aneh, Ram.”
“Nggak aneh, Sar. Cuma belum nemu waktu yang tepat buat jujur.”
Saras menatap Rama, lalu duduk di sampingnya.
Dari kejauhan, terdengar suara jangkrik siang yang terselip di antara bising anak-anak SMA baru.
Hening, tapi hidup.
Rama membuka gitar dari sarungnya. Petikan pertamanya lirih, tapi jernih.
Nada-nada kecil itu menari bersama angin, lalu berlabuh pelan di bahu Saras.
“Masih lagu yang sama waktu SMP dulu?”
“Nggak. Ini lagu baru.”
“Judulnya?”
“Embun di Seragam Putih Abu.”
Saras tersenyum tipis.
“Kamu memang nggak pernah berubah, Ram. Selalu bisa bikin hal sederhana jadi kenangan.”
Sore menjelang.
Langit memudar ke warna jingga muda.
Saras berdiri, membersihkan seragamnya dari dedaunan.
“Aku pulang dulu, Ram. Ada les.”
“Naik apa?”
“Dijemput sopir.”
“Oh… ya.”
Rama hanya bisa tersenyum, menyembunyikan getir kecil di ujung hatinya.
Motor bututnya terparkir tak jauh dari situ — diam, menunggu tanpa suara.
Saras melangkah pergi.
Tapi sebelum naik ke mobil, ia menoleh.
“Ram…”
“Ya?”
“Kalau suatu pagi nanti kamu lihat embun di kaca jendela, anggap aja itu salam dariku.”
Mobil melaju pelan meninggalkan halaman sekolah.
Rama menatap jejaknya, lalu membuka kembali buku Biologi, menambahkan satu kalimat di bawah surat Saras:
“Dan kalau embun itu hilang, aku tahu — matahari sedang menjagamu.”

0 Komentar