Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 9 Sebelumnya :
Embun di Seragam Putih Abu
Hari Sabtu, SMA Saras mengadakan lomba antar kelas dalam rangka HUT sekolah.
Saras menjadi panitia dokumentasi, seperti biasanya — sibuk dengan kamera digital di tangannya.
Lapangan sekolah penuh warna: bendera, tenda lomba, dan tawa remaja yang berlarian.
Rama, yang sekolah di SMA-5, datang hanya sebagai “penonton tak diundang.”
Ia sengaja mampir sepulang latihan band di Balai Pemuda, karena tahu hari ini SMA-3 sedang ramai acara.
Seorang teman lama, Arif, yang dulu satu SMP dengannya dan kini sekolah di SMA-3, memberinya izin masuk lewat pintu belakang.
“Cuma nonton doang, Rif. Serius.”
“Nonton Saras, kan?”
Rama tertawa, malu-malu.
Dari kejauhan, Rama melihat Saras — berseragam panitia dengan rompi kuning muda, rambut diikat, wajahnya berkeringat tapi tetap cantik.
Ia sedang menulis daftar pemenang di papan tulis besar di tepi lapangan.
Cahaya matahari memantul di rambutnya.
Rama terpaku.
Ia merogoh tas kecilnya, mengeluarkan selembar kertas origami berbentuk merpati putih.
Di dalamnya, lipatan halus menyembunyikan sebaris tulisan sederhana:
“Saras, kalau dunia ini lapangan sekolah, aku cuma ingin jadi penonton yang beruntung — yang sekali waktu bisa melihatmu tersenyum.”
Rama menunggu momen yang tepat.
Ketika lomba terakhir selesai dan siswa-siswa mulai berhamburan keluar,
ia menghampiri meja panitia.
“Permisi… ini buat panitia dokumentasi,” katanya gugup, sambil meletakkan origami merpati di antara tumpukan kertas.
Saras sempat menoleh, tapi Rama sudah melangkah pergi, menunduk, menyelinap di antara kerumunan.
Sore harinya, di kamar kos, Saras membuka lipatan origami itu.
Ia mengenali tulisan itu — huruf-huruf miring khas Rama yang dulu sering ia lihat di surat-surat SMP dulu.
“Merpati putih…” gumamnya, tersenyum kecil.
“Dia masih suka nulis beginian…”
Saras mengambil buku hariannya, menempelkan origami itu di halaman belakang, lalu menulis:
“Rama datang. Tanpa bicara. Tapi langit sore tahu segalanya.”
Sementara itu, Rama duduk di halte depan SMA-3.
Langit sudah jingga. Angin sore mengibaskan kemejanya.
Ia melihat seekor burung putih melintas di atas sekolah itu — entah merpati sungguhan atau hanya bayangan perasaannya.
“Terbanglah, Sar… tapi tolong, jangan lupa langit yang pernah kita tatap bareng.”

0 Komentar