Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 29 Sebelumnya :
( TAMAT )
Sore itu, Rama sedang duduk di warung kecil pinggir jalan.
Kopi hitam di depannya sudah setengah dingin,
asap rokok menggulung pelan seperti napas yang menua bersama waktu.
Di sudut meja, sebuah koran lokal terlipat — halaman obituari.
Matanya terhenti pada satu nama:
“Saraswati A. – dimakamkan pagi tadi di kampung halamannya.”
Tak ada yang bergerak di sekitarnya,
tapi di dalam dada, sesuatu runtuh tanpa suara.
Ia membaca ulang baris itu — berulang-ulang —
seperti menolak percaya pada kalimat yang terlalu pendek untuk menampung kehilangan.
Angin sore membawa aroma hujan,
dan langit di atas Surabaya tampak kelabu.
Rama meneguk sisa kopinya, menatap langit, lalu berbisik pelan,
“Langit itu kini milikmu sepenuhnya, Saras…”
Tak ada tangis, hanya diam yang panjang.
Karena cinta yang telah melewati waktu,
tidak lagi butuh air mata untuk dihidupkan.
Beberapa menit kemudian, hujan turun — lembut, seperti doa yang jatuh dari langit.
Tetes-tetesnya mengenai gitar tua yang tergeletak di kursi sebelah,
menciptakan bunyi lirih seperti senar yang disentuh malaikat.
Rama menutup mata.
Dalam gemericik hujan, ia seolah mendengar suaranya:
Suara Saras, lembut dan jauh,
membisikkan kalimat terakhir dari masa silam:
“Jika kelak aku pergi, biarlah langit yang menyimpan cinta kita…”
Episode 30 – Tema “Perempuan yang Menyimpan Langit”
Ada cinta yang tak berakhir dengan pelukan,
tapi berpulang dalam diam —
disambut hujan yang turun dengan tenang,
karena Tuhan tahu, dua jiwa itu
sudah saling memaafkan di bawah langit yang sama.

0 Komentar