Perempuan yang Menyimpan Langit - EPILOG - Karya R. Abim

 Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 30 Sebelumnya :

EPILOG

Malam turun perlahan di kota kecil itu.
Langit tampak bersih, seolah baru saja mencuci luka manusia dengan hujan sore tadi.
Di teras warung kopi, hanya tinggal satu cangkir yang belum kering — cangkir yang dulu selalu dipesan Rama setiap senja datang membawa nama Saras.

Kini semuanya telah berlalu.
Waktu melarutkan cinta, menjadikannya doa, dan doa pun akhirnya berubah menjadi cahaya yang tak memerlukan tubuh.
Saras telah pergi, tapi namanya masih bergema di dada mereka yang pernah percaya pada kesetiaan, meski tak berbalas.
Rama menatap langit satu kali lagi — langit yang dulu mereka bagi berdua.

“Setiap cinta akan menemukan bentuknya sendiri,” tulis Rama dalam catatan terakhirnya.
“Jika tidak di tangan, mungkin di angin.
Jika tidak di dunia, mungkin di langit yang menyimpan nama kita.”

Lalu pena berhenti.
Dan dari jauh, mungkin ada bintang yang menitikkan cahaya — seperti salam terakhir dari sebuah cinta yang telah menjadi cahaya abadi.


Kita tinggalkan “Perempuan yang Menyimpan Langit”, Kita Songsong Cer-Ber Baru dengan tema: “Gunung yang Tak Mau Tidur” ,mengisahkan perjalanan Mistis dan Cinta seorang Pecinta Alam dalam Pendakiannya dari Gunung ke Gunung.

Tetap di SASTRA TETES EMBUN


NEXT : Cerber - Gunung yang Tak Mau Tidur

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising