Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 28 Sebelumnya :
Mentari tua menggantung di ufuk barat,
cahayanya redup, seperti napas yang perlahan menua.
Di tepi pantai itu — tempat yang dulu menyimpan janji, tawa, dan air mata —
Rama kembali duduk, membawa gitar tuanya yang sudah penuh goresan waktu.
Anak-anaknya kini telah berkeluarga.
Sinta, istrinya, tetap setia menyiapkan kopi hitam tiap pagi,
meski tangannya mulai bergetar menua bersama hari.
Hidup berjalan tenang — seperti laut di depannya hari itu,
tanpa gelombang, tanpa badai, tapi juga tanpa gema dari masa lalu.
Rama memetik satu nada,
senar ketiga masih sumbang seperti dulu.
Ia tersenyum tipis.
“Masih seperti waktu Saras pergi,” gumamnya pelan.
Angin laut menyapu rambutnya yang memutih, membawa aroma asin dan kenangan yang tak mau padam.
Ia menatap jauh, ke batas laut dan langit —
tempat dulu ia pernah membakar surat-surat lama sambil berjanji akan ikhlas.
Tapi ternyata, ikhlas pun bisa menua bersamanya.
Suara debur ombak datang lembut, seperti bisikan.
Rama memejamkan mata, dan sekelebat bayangan muncul —
Saras, dengan rambut ditiup angin, berdiri di tepi pantai, tersenyum samar.
Bukan nyata, bukan ilusi — hanya gema yang hidup di ruang antara ingatan dan rindu.
“Kau baik-baik saja di sana, Saras?”
bisiknya pelan, hampir seperti doa.
Ia menatap laut yang kini tenang,
dan entah kenapa terasa seperti menatap dirinya sendiri —
seorang lelaki yang telah belajar berdamai dengan takdir,
meski di dadanya masih ada ombak kecil
yang sesekali berdebur tanpa suara.

0 Komentar