Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 28 : Merpati Terlambat Pulang - Karya R. Abim

  Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 27 Sebelumnya :

Episode 28: Merpati Terlambat Pulang

Sore itu, langit berwarna jingga pudar.
Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah yang lembut dan desir angin yang membawa sisa-sisa senja.
Di meja kayu kamarnya yang menghadap jendela, Saras menulis perlahan —
huruf demi huruf yang terasa lebih berat dari biasanya.

“Rama… aku menulis ini bukan untuk memintamu kembali.
Aku hanya ingin bilang bahwa aku masih menyebut namamu dalam doa,
meski tak berharap apa pun lagi.”

Tangannya gemetar ketika melipat kertas itu.
Ia memasukkannya ke dalam amplop kuning, menulis alamat lama di sudut kiri bawah:
“Jl. Sawo No. 39, Rumah kayu dekat bengkel kecil.”
Alamat yang dulu ia hafal di luar kepala.

Keesokan harinya, ia mengirimkan surat itu lewat kantor pos.
Petugas tersenyum ramah, tanpa tahu bahwa di dalam amplop itu tersimpan setengah hidup yang tertinggal di masa lalu.
Lalu waktu berjalan pelan — satu hari, dua hari, seminggu.

Hingga suatu pagi, surat itu kembali.
Tanda merah di sudutnya menulis:
“Alamat tidak ditemukan. Rumah telah berpindah tangan.”

Saras terpaku.
Ia menatap tulisan itu lama sekali, lalu membuka amplopnya lagi.
Kertasnya masih sama, tapi tintanya sudah mulai pudar terkena lembab hujan.
Di luar, seekor merpati hinggap di jendela, mengepak sayapnya perlahan — seolah mengerti isi hatinya.

“Mungkin kau juga terlambat pulang, ya…”
katanya lirih pada burung itu.
“Seperti cinta kami — yang datang di waktu yang salah, dan pergi saat sudah terlalu dalam.”

Senja turun lagi, kali ini tanpa janji.
Saras menatap langit, menutup matanya, lalu berbisik pelan:

“Aku sudah memaafkan semuanya, Rama. Bahkan waktu yang membuat kita berpisah.”

Merpati itu terbang perlahan ke arah barat,
meninggalkan Saras yang masih berdiri di jendela —
menatap langit yang kini hanya menyimpan gema dari cinta yang tak pernah benar-benar hilang.


Episode 28 – “Merpati Terlambat Pulang”
Tak semua surat butuh penerima,
kadang ia cukup menjadi doa yang kembali pada penulisnya —
sebagai tanda bahwa cinta, meski tak sampai,
telah sampai pada keikhlasan.


Selanjutnya Episode 29 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising