Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 26 Sebelumnya :
Pagi di kota kecil itu selalu beraroma tanah basah dan suara ayam yang berkejaran di halaman.
Rama duduk di bangku depan rumahnya, menyeruput kopi hitam tanpa gula.
Di kejauhan, angin bertiup pelan, membawa serpih kenangan yang tak pernah benar-benar mati.
Sebelum matahari naik tinggi, motor-motor mulai melintas di jalan kecil di depan rumah.
Anak sekolah lewat, pedagang sayur berteriak pelan, dan di sela semua itu
Rama melihat Saras berjalan perlahan, menenteng tas berisi buku-buku puisi untuk anak-anak panti.
Langkahnya lembut, matanya teduh, dan senyum kecil itu… masih sama seperti belasan tahun lalu.
Mereka tidak saling menyapa.
Tidak ada kata, tidak ada isyarat — hanya angin yang berhembus di antara dua rumah, membawa pesan yang tak perlu diucapkan.
Rama memandangi punggung Saras hingga menghilang di tikungan.
Sinta, istrinya, keluar dari dapur sambil menaruh roti bakar di meja.
“Kau melamun lagi, Mas?” tanyanya sambil tersenyum.
Rama menggeleng, mencoba tersenyum.
“Cuma lihat pagi. Anginnya enak sekali hari ini.”
Sinta tak curiga. Ia duduk di sampingnya, menatap burung-burung kecil yang beterbangan di pagar.
Rama menggenggam cangkirnya lebih erat. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang hangat dan nyeri —
seperti lagu lama yang tak pernah selesai dimainkan.
Sementara itu, di ujung jalan, Saras berhenti sejenak di bawah pohon mangga.
Angin menyingkap helai rambutnya, membawa aroma kopi dari rumah Rama.
Ia tahu, laki-laki yang dulu ia cintai sedang duduk di beranda itu.
Tapi kini, cinta mereka hanya boleh bernafas di udara —
tanpa tubuh, tanpa nama.

0 Komentar