Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 25 Sebelumnya :
Senja menua di pelabuhan tua.
Langit berwarna tembaga, laut bergemuruh pelan, dan burung camar melintas membawa bayang yang samar — seperti kenangan yang enggan benar-benar pergi.
Rama berdiri di tepi dermaga, menatap jauh ke arah ombak yang memecah batu karang.
Di sampingnya, Saras berdiri diam, angin laut mengibarkan helai rambutnya.
Tak ada kata yang diucap, hanya suara debur yang menyamarkan degup mereka.
“Kau sudah berkeluarga, Rama,”
bisik Saras lirih, menatap garis laut yang makin jauh.
“Aku juga pernah mencoba bahagia, tapi mungkin tak semua orang bisa setia pada takdir.”
Rama mengangguk perlahan.
Ia tahu — ada sesuatu di dada yang bergolak, tapi tak boleh diterjemahkan menjadi langkah.
Sinta, istrinya, sedang menyiapkan makan malam di rumah kecil mereka;
sementara di depan matanya, perempuan yang dulu ia cintai masih menyimpan langit di pandangannya.
Ia mengambil kerikil kecil, melemparkannya ke laut.
“Dulu aku pikir cinta itu seperti perahu,” katanya pelan.
“Kau cukup mendayung, dan semua akan sampai. Tapi ternyata, kadang cinta adalah karang — diam, keras, dan harus kita biarkan menahan ombak sendiri.”
Saras menunduk. Air matanya menetes tanpa suara, menyatu dengan angin asin.
“Jadi kita menyerah, Rama?”
“Tidak, Saras… kita tidak menyerah,”
jawabnya tenang.
“Kita hanya belajar mencintai tanpa memiliki. Menyimpan doa di langit masing-masing.”
Laut di depan mereka tampak tenang, tapi di dada Rama, ombak berdebur tanpa henti.
Ia tahu, ada bagian dari dirinya yang akan selalu berlabuh di mata Saras —
namun ia juga tahu, pulangnya bukan lagi ke sana.
Mereka berpamitan tanpa pelukan, tanpa janji.
Hanya seulas senyum yang getir namun tulus.
Dan ketika Rama berjalan menjauh, Saras menatap punggung itu lama sekali,
seolah ingin mengukirnya di cakrawala sebelum senja hilang sepenuhnya.

0 Komentar