Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 25 : Rokok, Hujan, dan Nama di Ujung Doa - Karya R. Abim

 Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 24 Sebelumnya :

Episode 25 : Rokok, Hujan, dan Nama di Ujung Doa

Hujan turun tanpa suara di gang kecil tempat mereka dulu pernah berjanji. Lampu jalan bergetar dalam genangan air, memantulkan bayangan dua orang yang pernah menjadi “kita.”

Saras datang dengan mantel abu-abu, rambutnya sedikit basah, langkahnya gugup tapi pasti. Rama sudah menunggu — bersandar di dinding, menggenggam gitar tua dan sebungkus rokok yang sudah lembab.

Tak ada kata pembuka. Hanya pandangan panjang yang tak tahu harus dimulai dari mana. Dunia di sekitar mereka berjalan biasa saja, tapi di dalam dada keduanya, waktu seolah berhenti.

“Masih sering main gitar?” tanya Saras akhirnya.
Rama tersenyum kecil, lalu menyalakan sebatang rokok. “Kadang. Tapi suaranya sudah tak sama. Mungkin karena lagu-lagunya kehilangan pendengarnya.”

Mereka tertawa, getir tapi jujur.
Malam itu, tak ada pelukan, tak ada air mata. Hanya percakapan panjang yang mengalir seperti hujan: pelan, tapi terus jatuh.

Tentang masa lalu yang tak mau selesai.
Tentang pilihan yang tak bisa diulang.
Tentang cinta yang tidak mati, hanya berpindah bentuk.

“Aku masih mencintaimu,” ucap Rama, suaranya serak oleh dingin dan waktu.
“Tapi kini dengan cara yang lain.”

Saras menatapnya, lama.
“Kalau begitu, biarkan aku juga mencintaimu… dengan cara yang tak mengganggu hidupmu.”

Rama menunduk, menatap rokok yang padam di ujung jemarinya. Hujan mengguyur makin deras, seolah langit ikut menangis — tapi mereka tidak. Mereka hanya diam, menatap jalan basah tempat kenangan berbaring seperti bayangan panjang.

Di antara suara hujan dan detak jantung yang tak serempak, mereka tahu:
Cinta itu masih ada. Tapi tak lagi untuk dimiliki.

Dan malam itu, ketika mereka berpisah di ujung gang, Rama sempat berbisik dalam hati — nama Saras masih terucap di ujung doanya, seperti nada terakhir lagu yang tak selesai.


Catatan:

Cinta yang tak berakhir bukan berarti gagal, ia hanya berganti wujud menjadi ketulusan yang sunyi.
Di Episode ini, menutup bab “pertemuan kembali” dengan sebatang rokok yang padam dan hujan yang tak mau reda — simbol bahwa api asmara mungkin bisa padam, tapi hangatnya tetap mengendap dalam doa.

Kadang yang paling setia bukan yang menunggu,
tapi yang diam-diam tetap menyebut namamu di setiap akhir sujudnya.


Selanjutnya Episode 26 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising