Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 23 Sebelumnya :
Malam turun pelan di atas kota kecil itu.
Dari kejauhan, suara azan Isya bergema, mengalun lembut menyentuh langit yang separuh gelap.
Di beranda rumahnya yang sederhana, Rama duduk bersandar di kursi bambu, gitar tuanya tergeletak di pangkuan.
Kopi sudah dingin, rokok separuh padam, dan langit malam seperti menatapnya dengan tatapan yang ia kenal — sepi yang pernah datang bersama nama Saras.
Angin membawa suara radio dari warung depan: lagu lama tentang pertemuan dan kehilangan.
Rama memetik satu nada, dua nada —
tapi senar ketiganya putus.
Bunyinya lirih, seperti suara hati yang menahan sesuatu terlalu lama.
Ia tersenyum kecil, getir.
“Gitar tua ini tahu lebih banyak dari siapa pun tentang diamku,” gumamnya.
Lalu matanya tertuju pada kaca jendela bengkel di seberang jalan — tempat ia biasa memperbaiki motor orang kampung.
Di sana, seorang tukang ojek baru datang, bercerita pelan kepada temannya:
“Eh, denger ya, Saras… Saras yang dulu sekolah di SMA-3 itu, pulang ke sini, Mas. Sekarang sendirian, kayaknya udah cerai.”
Gitar di tangan Rama terhenti.
Ujung jarinya kaku di atas fretboard.
Nama itu…
nama yang sudah bertahun-tahun hanya ia sebut dalam doa, kini kembali bergema lewat suara orang lain.
Angin malam menyingkap tirai kecil di berandanya.
Rama berdiri, menatap jauh ke langit.
Ada retak halus di sana — seperti cermin waktu yang tiba-tiba pecah,
memantulkan bayangan masa lalu yang belum benar-benar mati.
Ia mengambil selembar kertas kusam dari kotak kayu di sudut kamar — surat yang tak pernah ia kirim,
lalu menatapnya lama.
Di baris terakhir tertulis:
“Jika suatu hari kau pulang, biarlah aku hanya menatapmu dari jauh. Aku tak ingin merusak tenangmu, meski aku belum benar-benar pulih dari rindumu.”
Gitar tua itu dipetik lagi, kali ini tanpa senar ketiga.
Nada-nada sumbang berbaur dengan desir angin,
dan di sela petikan itu, mata Rama perlahan basah.

0 Komentar