Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 23 : Fatamorgana di Tengah Kota - Karya R. Abim

 Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 22 Sebelumnya :

Episode 23 : 
Fatamorgana di Tengah Kota

Hari itu, langit tampak kelabu seperti menahan tangis.
Jakarta berlari seperti biasa — sibuk, bising, tak peduli ada hati yang sedang retak di dalam sebuah mobil travel menuju timur.

Di kursi belakang, Saras duduk diam.
Di pangkuannya, sebuah map cokelat berisi akta perceraian dan cincin kawin yang kini tak lagi berarti.
Ia menatap keluar jendela, pada gedung-gedung yang makin mengecil di kejauhan,
pada bayangan dirinya sendiri yang perlahan memudar bersama senja.

Ia tak menyesal, tapi juga tak bahagia.
Yang tersisa hanya rasa hampa, seperti kota tanpa lampu di malam hari.

Ketika mobil mulai memasuki wilayah kota kelahirannya,
hujan turun perlahan — rintik kecil yang menetes di kaca, lalu meluncur pelan, seperti kenangan yang tak mau hilang.

Dan di tepi jalan yang becek, di bawah rindang pohon angsana,
seorang lelaki menuntun motor tua,
jaketnya lusuh, gitarnya tergantung di bahu, wajahnya tenang dalam kesederhanaan.

Saras mencondongkan tubuh, matanya terpaku.
Waktu seakan berhenti.
Lelaki itu menoleh sekilas — hanya sepersekian detik,
namun cukup untuk membuat dadanya sesak oleh sesuatu yang lama tertidur.

Rama.
Nama itu bergetar di bibirnya tanpa suara.

Sopir menyalakan wiper, dan bayangan itu perlahan kabur di balik kaca hujan.
Tapi dalam hatinya, Saras tahu:
perjalanan pulangnya baru saja berubah arah —
menuju masa lalu yang belum selesai.


Episode 23 – “Fatamorgana di Tengah Kota”
Terkadang, takdir tak datang dengan suara keras.
Ia hanya menampakkan diri dalam satu pandangan singkat di bawah hujan —
cukup untuk mengguncang seluruh hidup yang kita kira sudah berakhir.


Selanjutnya Episode 24 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising