Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 22 : Surat yang Tak Pernah Sampai - Karya R. Abim

 Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 21 Sebelumnya :

Episode 22 : 
Surat yang Tak Pernah Sampai

Suatu sore yang lembap, Rama sedang membereskan rak buku lamanya.
Di antara debu dan buku-buku kuliah yang menguning, ia menemukan buku Biologi SMA — yang di dalamnya terselip surat-surat lama.
Tulisan tangan Saras, huruf miring yang dulu selalu ia kenali bahkan dari jauh, masih tercium samar aroma tinta dan kenangan.

Ia duduk lama.
Membaca satu per satu surat itu, seperti membuka pintu waktu yang tak pernah tertutup rapat.
Ada tawa, ada rindu, ada juga air mata yang menempel di pinggiran kertas.

Malamnya, di meja kayu yang mulai lapuk, Rama menulis satu surat baru.
Ia menulis tanpa niat mengirimkan, hanya ingin menumpahkan sesuatu yang selama ini berdiam di dada:

“Saras… aku sudah belajar memaafkan, tapi belum pandai melupakan.
Hidupku baik-baik saja, meski kadang masih kucari suaramu di sela doa.”

Surat itu dilipat rapi, dimasukkan ke dalam amplop tanpa alamat.
Di sudut kanan atas, Rama menulis tanggal, lalu menaruhnya di dalam buku yang sama.

Ia tahu — dunia sudah berubah.
Saras mungkin tak lagi mengingat hal-hal kecil itu.
Namun di hati Rama, surat itu menjadi doa yang tak pernah dikirim,
sebab beberapa perasaan memang tak perlu sampai — cukup disimpan agar tak hilang.


Episode 22 – “Surat yang Tak Pernah Sampai”
Kadang, cinta paling tulus bukan yang dikirimkan,
melainkan yang dibiarkan tinggal diam dalam lipatan waktu.


Selanjutnya Episode 23 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising