Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 21 : Waktu yang Menyembunyikan Nama - Karya R. Abim

 Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 20 Sebelumnya :
Hujan di Ujung Tasbih


Episode 21 : Waktu yang Menyembunyikan Nama

Waktu berjalan seperti arus sungai yang membawa segala: tawa, luka, dan kenangan.
Rama kini hidup sederhana bersama Sinta, perempuan lembut yang menenun kesetiaan dalam diam. Mereka menanam sayur di halaman belakang, menjemur pakaian bersama, dan terkadang—di sore yang sunyi—Rama masih memetik gitar tuanya, memainkan nada-nada yang hanya ia tahu artinya.

Di kota besar yang jauh, Saras menjalani hidup yang tampak sempurna. Rumah besar, mobil mewah, pesta dan karier yang bersinar. Tapi di dalam hatinya, ada ruang kecil yang tak pernah ditempati siapa pun. Ruang itu masih menyimpan aroma hujan, bunyi petikan gitar, dan suara lelaki yang pernah berjanji di tepi pantai: “Aku akan mencintaimu, bahkan jika dunia tak setuju.”

Suatu malam, hujan turun di dua tempat yang berbeda.
Rama menutup jendela, lalu menatap ke luar.
Saras menatap dari balik kaca apartemen yang tinggi.
Keduanya menatap hujan yang sama—
hanya berbeda arah angin dan takdir.

Di dada Saras, nama itu kembali muncul.
Namun kali ini ia tak berani mengucapkannya,
sebab waktu sudah menyembunyikan nama itu di balik doa.

“Beberapa nama,” tulis Rama di buku puisinya,
“tak hilang oleh lupa, tapi disembunyikan oleh waktu agar tak melukai.”

Dan hujan terus turun, membawa rahasia lama ke setiap ujung malam.


Episode 21 – Awal Fase “Menemukan Ketenangan”
Cinta tak hilang, hanya bersembunyi di lipatan waktu.
Kadang bukan untuk dilanjutkan, tapi untuk dikenang dengan tenang.


Selanjutnya Episode 22 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising