Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit
Episode 18 Sebelumnya :
Debur Ombak dan Batu Karang
Malam turun dengan tenang, seperti ziarah waktu yang datang tanpa suara.
Di kamar yang temaram, Saras membuka sebuah kotak kayu tua yang sudah lama tersimpan di dasar lemari. Di dalamnya, ada selembar kertas berwarna kecokelatan — tinta hampir pudar, namun masih terbaca.
Tertulis di sudut bawah:
“Untuk Saras, di ujung hujan — Rama.”
Tangannya bergetar.
Hatinya seperti diseret kembali ke masa lalu —
ke sore-sore di bawah flamboyan, ke suara gitar di tepi sawah,
ke tawa muda yang kini hanya tinggal gema di dalam ingatan.
Ia membaca pelan, dengan suara yang nyaris bergetar:
“Jika suatu hari kau temukan aku tak lagi menulis namamu,
itu bukan karena aku lupa,
tapi karena cinta sudah berubah jadi doa,
yang tak butuh lagi disebut.”
Air mata Saras menetes di atas kertas itu, menyatu dengan huruf-huruf lama.
Ia menutup matanya, mencoba menahan sesak yang datang tiba-tiba.
Suaminya kini sudah lama pergi — pernikahan mereka berakhir tanpa cerita.
Dan di setiap kesunyian malam, nama Rama selalu muncul seperti hujan: lembut, tapi tak pernah bisa dihindari.
Dari jendela kamarnya, ia menatap hujan yang turun pelan.
Bunyi rintiknya seperti tasbih yang jatuh satu per satu dari langit, mengiringi bisikan doanya yang sederhana:
“Ya Allah… jaga dia, walau bukan untukku.”
Sementara di desa jauh di sana, Rama juga duduk di beranda rumahnya, memutar biji tasbih satu demi satu.
Ia tidak tahu bahwa di waktu yang sama, ada seseorang yang menyebut namanya dalam tangis dan cahaya.
Hujan menyatukan mereka kembali — bukan sebagai sepasang kekasih,
tapi sebagai dua jiwa yang saling mendoakan,
di bawah langit yang masih menyimpan nama mereka berdua.

0 Komentar