Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 19 : Debur Ombak dan Batu Karang - Karya R. Abim

 Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 19 : Debur Ombak dan Batu Karang

Langit pagi itu kelabu, tapi laut tetap memantulkan cahaya yang samar.
Rama berdiri di atas batu karang, menatap ombak yang datang dan pergi seperti kenangan yang enggan benar-benar usai.
Di tangannya, ada tumpukan surat lama — kertas yang mulai pudar, tinta yang melebur oleh waktu dan air mata yang pernah jatuh diam-diam.

Ia menyalakan api kecil dari korek saku yang mulai kehabisan gas.
Satu per satu, surat itu ia bakar.
Kertas-kertas itu melengkung, berubah jadi abu yang beterbangan, lalu hilang ditelan angin laut.
Debur ombak datang, menyapu sisa-sisanya dengan lembut — seperti lautan sedang menenangkan seseorang yang baru saja selesai menangis.

“Pergilah, Sar… biar laut yang menjagamu kali ini,”
bisik Rama pelan, nyaris tak terdengar di antara riuh angin dan gelombang.

Ia menatap ke cakrawala, tempat langit dan laut seolah saling berpelukan.
Di sanalah ia meletakkan doanya, di antara buih dan cahaya, berharap Tuhan masih mau mendengar suara dari seorang pecinta yang belajar melepaskan.

Petikan gitar lirih terdengar.
Nada-nada itu melayang bersama bau asin angin laut, bercampur suara burung camar yang menjerit di kejauhan.
Setiap nada seperti salam perpisahan, namun juga bentuk kesetiaan yang tak bisa mati.

“Cinta yang sejati bukan tentang memiliki,”
tulisnya di pasir basah,
“tapi tentang mengikhlaskan seseorang tetap bahagia, meski bukan bersamamu.”

Ombak datang — menghapus tulisan itu tanpa sisa.
Dan Rama tersenyum kecil, untuk pertama kalinya tanpa air mata.

Ia tahu, sebagian jiwanya akan selalu tertinggal di pantai itu.
Namun sebagian lainnya — yang sudah berdamai — akhirnya siap melangkah pulang.


Selanjutnya Episode 20 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising