Perempuan yang Menyimpan Langit - Episode 12 : Biduk Cinta dan Angin Buritan - Karya R. Abim

  Cerber: Perempuan yang Menyimpan Langit


Episode 11 Sebelumnya :
Senja di Bawah Pohon Flamboyan


Episode 12 : Biduk Cinta dan Angin Buritan

Sore itu, angin bertiup pelan dari arah selatan — membawa aroma laut dan debu jalanan.
Rama menunggu di tepi gang, gitar tergantung di punggung, motor bututnya menunggu dengan sabar seperti kuda tua yang setia.
Saras datang, langkahnya pelan, membawa selembar kertas berisi puisi yang kemarin mereka tulis di bawah flamboyan.

“Ini puisimu yang kemarin belum selesai, Rama,” katanya sambil tersenyum kecil.

Rama menerimanya, membaca baris terakhir yang ditulis Saras:

‘Kalau cinta adalah laut,
aku ingin menjadi biduk yang menantang anginnya.’

Rama tersenyum, menatap langit senja yang mulai memerah.
Ia tahu, perbedaan di antara mereka lebih luas dari lautan: Saras anak seorang pejabat di kota, sedangkan dirinya hanya anak petani yang bekerja paruh waktu di bengkel sepulang sekolah.
Namun entah mengapa, setiap kali Saras tersenyum, semua jarak itu seperti tak berarti.

Mereka berdua naik motor menyusuri jalan kecil menuju pantai ujung desa.
Motor itu bergetar pelan, tapi tawa Saras membuatnya seperti angin buritan yang mendorong biduk kecil mereka melaju ke tengah kehidupan.

Di warung kopi pinggir laut, mereka duduk berdua.
Rama menuang kopi, Saras menatap debur ombak dari kejauhan.
Rokok di tangan Rama mengepulkan asap tipis, berbaur dengan aroma kopi yang pahit manis.
Di sela ombak dan hembusan angin, Rama memetik gitar pelan — suara senarnya terseret angin laut, seolah melanjutkan kalimat yang tak berani ia ucapkan.

“Kalau nanti kita terpisah,
biarlah laut jadi saksi,
bahwa pernah ada dua anak manusia
yang berani mencintai meski tak punya apa-apa.”

Saras menunduk. Matanya basah, bukan karena sedih, tapi karena rasa yang terlalu dalam untuk usia mereka.
Angin laut bertiup makin kencang, membawa suara gitar, aroma kopi, dan dua hati yang pelan-pelan belajar menerima:
bahwa cinta sejati bukan tentang siapa yang punya segalanya,
tapi siapa yang tetap tinggal, meski hanya punya angin untuk berbagi.


Catatan :
Senja hari itu mencatat cinta yang sederhana namun teguh.
Rama dan Saras belum tahu bahwa setiap langkah mereka menuju laut,
sesungguhnya adalah perjalanan menuju ujian —
tentang bagaimana mempertahankan cinta di tengah badai kenyataan.


Selanjutnya Episode 13 :

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising