Gunung yang Tak Mau Tidur
Kami membawa pembaca menapak tilas kisah baru, di mana cinta tak lagi sekadar kisah dua hati, melainkan jembatan antara yang hidup dan yang hilang.
Melalui serial “Gunung yang Tak Mau Tidur”, Pena Bersayap mengajak pembaca menyelami batin anak muda pecinta alam, yang mencari bukan hanya puncak gunung, tetapi juga kebenaran yang terkubur di balik kabut.
Di sana, suara angin berbicara, bayangan masa lalu berbaur dengan rindu, dan cinta tumbuh di antara doa dan ketakutan.
Kami persembahkan cerita ini sebagai bagian dari perjalanan ruhani dan nurani — sebuah bentuk perenungan antara hidup, kehilangan, dan keabadian.
Selamat mendaki kisah ini bersama kami.
Karena kadang, gunung yang tak mau tidur… hanyalah hati manusia yang belum benar-benar tenang.
Prolog
Gunung yang Tak Mau Tidur“Kabut itu turun bukan karena hujan, tapi karena gunung ingin berbicara.
Dan setiap kali gunung ingin berbicara, manusia sebaiknya diam.
Di lereng timur Gunung Lembayung, seorang mahasiswa Mapala bernama Arga Samudra menatap puncak yang tertutup kabut pekat.
Ia bukan pendaki baru, tapi kali ini langkahnya berbeda — karena dalam ranselnya tersimpan sesuatu yang bukan peralatan pendakian: “Selembar surat lama bertuliskan nama kakaknya, yang hilang lima tahun lalu di jalur pendakian yang sama.“
Desir angin menelusup di antara pohon pinus, membawa aroma kopi hitam dan tanah basah.
Seekor burung hantu melintas, dan dari kejauhan, terdengar sayup petikan gitar.
Bunyi yang samar, seperti dipetik dari dunia lain.
“Gunung tidak pernah tidur, Arga…”
suara itu seperti berhembus dari sela kabut.
“Karena ada nama yang belum pulang.”
Arga menatap langit.
Ada sinar jingga terakhir di ujung hari, seolah matahari pun enggan pergi sebelum rahasia itu terungkap.
Di dada Arga, sesuatu bergetar — antara rindu, takut, dan panggilan yang tak bisa dijelaskan kata.
Malam itu, pendakian menuju “Gunung yang Tak Mau Tidur” pun dimulai.
Dan di atas sana, antara kabut dan doa, seseorang — atau sesuatu — sepertinya sudah menunggu.
Surat dari Puncak yang Hilang

0 Komentar