Bunga Rampai Puisi
Sajak Asmara Pena 1
Kadang cinta tidak berpamitan dengan kata-kata, ia hanya bersembunyi di ruang chat yang tak pernah benar-benar ditutup. Dan ketika jemari salah menekan tombol kirim, yang terbuka bukan hanya percakapan lama — tapi juga hati yang belum benar-benar selesai.
Pesan yang Tak Sengaja Terkirim
Kau tahu, kadang jemari lebih jujur dari hati,
menekan “kirim” sebelum sempat berpikir —
dan tiba-tiba seluruh masa lalu
meluncur lewat sinyal takdir.
Aku tak ingin mengulang luka,
tapi setiap kata yang melesat itu
seperti burung yang rindu pulang
ke sarang yang dulu membakar sayapnya.
Apakah kau masih di sana,
menunggu pesan yang tak sengaja kukirim,
atau justru menunggu alasan
untuk kembali percaya pada kenangan?
Tak semua hujan membawa dingin.
Ada hujan yang menyalakan kembali nyala lama.
Ada balasan pesan yang membuat detak jantung bergetar lebih cepat daripada waktu yang berlalu.
Dan malam itu, rintik-rintik air seolah membaca isi hati mereka.
Balasan di Tengah Hujan
Hujan turun tanpa janji,
seperti balasanmu malam itu —
singkat, tapi cukup mengguncang
seluruh kesunyian yang kujaga.
Ada getar yang tak selesai di dada,
antara rindu dan sisa marah yang belum reda.
Kau mengetik perlahan, aku menatap diam,
dua jiwa terhubung, tapi tak lagi saling memahami arah.
Barangkali hujan malam ini
adalah saksi paling jujur
bahwa cinta tak pernah benar-benar hilang,
hanya berpindah tempat dalam kenangan.
Ada jarak yang tak bisa dijembatani oleh sinyal. Tapi kadang, pandangan di layar cukup untuk mengguncang seluruh kenangan yang tertidur. Malam itu, langit menjadi saksi — bahwa perasaan bisa datang kembali, bahkan setelah doa terakhir diucapkan.
Langit yang Mengulang Nama Kita
Di layar itu, wajahmu muncul tak sengaja,
dan waktu berhenti seperti menahan napas.
Kita saling menatap,
antara ingin menyapa dan takut mengulang luka.
Langit di luar jendela
menyebut namamu pelan-pelan.
Mungkin ia tahu —
dua hati yang pernah terbakar cinta
tak bisa sepenuhnya padam.
Aku ingin menutup panggilan itu,
tapi suaramu menggantung di udara,
seperti doa yang terlambat dikabulkan,
namun masih ingin dipercaya.
R. Abim :
“Sajak-sajak ini ditulis dalam lintasan rasa antara kenangan dan kehilangan. Ia bukan sekadar tentang cinta yang hilang, tapi tentang suara yang tetap tinggal di antara jeda.
Sebab kadang, yang paling setia bukan kenangan — melainkan hati yang masih menunggu untuk dimengerti.“

1 Komentar
Bagus Sajaknya 👍👍
BalasHapus