Bunga Rampai Puisi : Sajak Asmara 2 - Karya : R. Abim

 Bunga Rampai Puisi

 Sebelumnya :
Sajak Asmara 1

Sajak Asmara 2

Ada cinta yang tak sempat menjadi rumah,
ada rindu yang tetap tinggal di halaman depan waktu.
Dalam sunyi yang menetes perlahan bersama hujan pagi,
kita mendengar lagi gema suara yang pernah menenangkan dunia:
suara orang yang dulu kita cintai,
dan kini hanya berani kita sebut dalam doa.

Malam-malam belakangan ini,
CerBer “Ketika Hujan Menyebut Namamu”
kembali membuka luka yang belum sempat dijahit kata.
Dari cerita itu, lahirlah tiga sajak yang menulis dirinya sendiri—
sajak tentang pesan yang tak terkirim,
tentang hujan yang menyampaikan balasan,
dan tentang panggilan yang tak pernah dijawab.


Di Ujung Pesan yang Tak Pernah Terkirim

Ada nama yang terselip di antara huruf-huruf gugup,
kupencet kirim — lalu menyesal,
karena cinta kadang datang tanpa mengetuk,
dan pergi tanpa sempat mengucap salam perpisahan.

Di layar yang kini dingin,
wajahmu masih berpendar seperti notifikasi yang tak mau padam.
Aku membaca ulang pesan itu —
bukan untukmu, tapi untuk diriku sendiri,
yang masih tak bisa melepaskan.


Balasan Pada Embun Pagi

Kau menulis dengan jemari gemetar,
sementara hujan mengetuk jendela seperti kenangan yang minta dipersilakan masuk.
Kata-katamu basah oleh penyesalan,
dan suaraku—yang nyaris mati—menemukan nyala kecil di ujung kalimatmu.

Kita berbicara lagi,
bukan karena rindu sudah padam,
melainkan karena luka masih ingat jalan pulang.
Dan di antara suara hujan itu,
aku mendengar hatimu berbisik:
“Seandainya dulu kita mau menunggu sedikit lebih lama.


Suara dari Panggilan yang Tak Terjawab

Nada tunggu itu seperti doa yang menggantung di langit malam.
Aku menatap layar,
menunggu jawaban yang tak pernah datang,
menunggu suaramu yang dulu tahu cara menenangkan dunia.

Kita berjarak hanya sejengkal jaringan,
namun hati kita berpisah sejauh satu keputusan yang tak pernah kita ubah.
Di antara deru hujan dan dengung listrik,
aku tahu —
kau juga menatap layar yang sama,
diam,
tak berani menekan call back.


Kadang cinta tak perlu dimenangkan — cukup diingat, dan dibiarkan hidup dalam puisi.
Karena setiap kata yang tertulis, adalah sisa napas dari perasaan yang enggan mati.
Maka biarlah malam ini, kita kembali duduk di beranda waktu, menonton hujan,
dan membiarkan namamu turun perlahan — menjadi bait yang tak pernah selesai ditulis.


Selanjutnya :
Sajak Asmara 3

Posting Komentar

0 Komentar

Advertising